Pages

Rabu, 03 Oktober 2012

ISI DAN ARTI FILSAFAT


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt, Tuhan yang menciptakan akal, sehingga kita dapat berpikir akan keindahan, dan kebijaksanaan-Nya yang Maha Agung terhadap alam semesta. Puji-pujian hanya diperuntukkan pada-Nya, karena Dia sang Maha pencipta, menciptakan manusia, menciptakan benda-benda lainnya yang ada di jagat raya. Dan tersebab kasih serta cinta-Nya, Allah Swt menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dituangkan-Nya dalam kitab-kitab-Nya yang diturunkan, agar manusia tidak terombang-ambing tersebab kemampuan akal yang kurang.

Selawat dan salam ke atas Nabi dan Rasul akhir zaman Muhammad Saw, kekasih Allah yang berjuang di jalan-Nya untuk menyebarkan cinta dan kebijaksanaan Allah Swt pada seluruh manusia yang membutuhkan kebenaran hakiki. Selawat dan salam juga kita sampaikan ke pada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul sebelum Muhammad Saw, yang juga berjuang untuk Agama Allah Swt ini. Dan juga selawat dan salam ke atas para keluarga Nabi Muhammad Saw, sahabat-sahabat, serta kaum Muslimin yang terus setia meneggakkan Al-Quran dan Sunnah, sampai kaum muslimin yang setia, yang hidup di hari akhir.

Adapun judul makalah yang kami persentasikan pada pertemuan kali ini, berjudul: ISI DAN ARTI FILSAFAT, dalam mata kuliah: FILSAFAT PENDIDIKAN, dengan dosen pemimbing mata kuliah ini Drs. Mawardi Ahmad MA.

Pembahasan yang terkandung dalam makalah kami ini, mengenai Pendekatan Etimologis (mengenal Filsafat berasal dari mana dan dari bahasa apa, serta pengertian Filsafat). Dan juga makalah ini membahas beberapa aliran Filsafat serta tokoh-tokohnya yang mencetuskan suatu aliran dalam Filsafat itu. Semoga makalah yang kami susun bersama ini bermanfaat bagi kita semua. SELAMAT MEMBACA.

PENDAHULUAN
           
Inti dari filsafat adalah berpikir. Namun berpikir dalam filsafat adalah berpikir memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Sehingga dengan berfilsafat manusia dapat sampai kepada kebenaran. Berpikir merupakan ciri utama manusia dan berpikir juga termasuk sesuatu hal yang penting demi kelanjutan hidup manusia. Kita mengetahui bersama, bahwa yang membedakan manusia dengan hewan adalah cara berpikirnya, serta perasaaan, dan hati nurani untuk merasa dan menghayati apa yang telah Tuhan ciptakan.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS.Al Imran (3):191]

Filsafat adalah kegiatan berpikir yang dibantu rasa, serta hati nurani untuk memperhatikan apa-apa yang terjadi di alam semesta serta mengungkap kebenarannya yang pada akhirnya menciptakan kebijaksanaan.


PEMBAHASAN
A.        PENDEKATAN ETIMOLOGIS

Filsafat berakar dari bahasa Yunani ”Phillein” yang berarti cinta dan “Sophia” yang berarti kebijaksanaan. Jadi, Filsafat berarti cinta kebijaksanaan. (Suparlan Suhartono, 2009: 37).

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf". (http://id.wikipedia.org).

Arti secara etimologi (kebijaksanan dan cinta) ini mempunyai latar belakang yang muncul dari pendirian Socrates, beberapa abad sebelum Masehi. Socrates berkata bahwa manusia tidak berhak atas kebijaksanaan, karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Terhadap kebijaksanaan, manusia hanya berhak untuk mencintainya. Pendirian Socrates tersebut sekaligus menunjukkan sikap kritiknya terhadap kaum Sophis yang mengaku memiliki kebijaksanaan. (Suparlan Suhartono, 2009: 37).

Secara awam, istilah ‘cinta’ menggambarkan adanya aksi yang didukung oleh dua pihak. Pihak pertama berperan sebagai subjek dan pihak kedua sebagai objek. Adapun aksi atau tindakan itu didorong oleh suatu kecendrungan subjek untuk ‘menyatu’ dengan objek. Untuk bisa menyatu dengan objek, subjek harus mengetahui sifat atau hakikat objek. Jadi pengetahuan objek menentukan penyatuan subjek dengan objek. Semakin mendalam pengetahuan subjek semakin kuat penyatuannya dengan objek. (Suparlan Suhartono, 2009: 37-38).

Sedangkan istilah ‘kebijaksanaan’, yang dasar katanya bijaksana dan mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, menggambarkan pengetahuan hakiki tentang bijaksana. Jadi kebijaksanaan berarti hakikat perbuatan bijaksana. Perbuatan bijaksana dikenal sebagai bersifat benar, baik, dan adil. Perbuatan demikian dilahirkan dari dorongan kemauan yang kuat, menurut keputusan perenungan akal pikiran, dan atas pertimbangan perasaan yang dalam. Kemudian, dari pendekatan etimologis dapat disimpulkan bahwa filsafat berarti pengetahuan mengenai pengetahuan. Dapat pula diartikan sebagai akar dari pengetahuan atau pengetahuan terdalam. (Suparlan Suhartono, 2009: 37-38).

Sebagaimana terdapat dalam Wikipedia. Istilah Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar (http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat#cite_note-0[Irmayanti Meliono, dkk. 2007: 1 ] )

B.        PERKEMBANGAN BEBERAPA ALIRAN FILSAFAT

Pembahasan tentang isi dan arti filsafat ini didasarkan pada pendekatan sejarah pemikiran filsafat. Pendekatan ini digunakan agar dapat menarik benang merah pemikiran filosofis dari zaman ke zaman. Tetapi dalam konteks membahas pendidikan. Perkembangan paham-paham atau aliran-aliran filsafat dimulai sejak Yunani Kuno (Greek Philosophi) sampai abad Eropa Modern.

1.         Materialisme: Herakleitos dan Parmenides
Herakleitos (535-475 SM) tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indra dan menolak kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam ruang dan waktu tertentu.

Parmenides (540-575) mengatakan bahwa yang “ada” itu ada dan yang “tidak ada” memang tidak ada. Jadi yang ada tidak dapat dipertentangkan dengan yang lain. Oleh karena itu, yang ada itu satu, sempurna dan tidak terbagi-bagi. Andaikata yang ada bisa terbagi, misalnya ‘A’ dibagi menjadi ‘B’ dan ‘C’, jelas bahwa ‘B’ tidak sama dengan ‘C’.

2.         Idealisme: Socrates dan Plato
Ajaran Socrates (469-399SM) sepenuhnya dikembangkan oleh muridnya Plato (427-347 SM). Socrates berpendapat bahwa manusia dengan kesemuanya hanya mampu mencintai kebijaksanaan. Sedangkan kebijaksanaan hanya ada di dunia idea, yaitu dunia yang tidak mungkin dapat disentuh oleh manusia.

3.         Realisme: Aristoteles (384-342)
Aristoteles berpendapat bahwa dunia sesungguhnya adalah dunia real yaitu dunia konkret, bersifat relatif dan berubah-ubah. Sedangkan dunia idea adalah dunia abstrak yang bersifat semu terlepas dari pengalaman. Setiap hal yang ada pasti ada dalam 10 kategori, yaitu substansi, kualitas, kuantitas, aksi, passi, ruang (space), tempo, situs,dan habitus.

4.         Rasionalisme: Rane Descartes (1596-1650)
Rane Descartes adalah ahli filsafat yang mengagungkan rasio. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia rasio, karena rasio adalah realitas sesungguhnya. Substansi yang ada hanya dapat diketahui oleh potensi rasio sedangkan pengalaman indra hanya mendapatkan kesan fenomenologis tanpa arti.

5.         Empirisme: John Locke (1632-1704)
Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia pengalaman, dunia konkret. Realitas adalah “tabularasa”, bagaikan kertas putih yang perlu diisi dengan banyak pengalaman. Semakin banyak pengalaman mengenai sesuatu hal, semakin banyak pula kebenaran Objektif yang didapatkan tentang sesuatu hal itu. Kemampuan rasio hanya dapat mengetahui secara abstrak, umum, dan tidak bersifat tetap sedang pengalaman indralah yang mampu mengenali yang konkret, yang satu-persatu dan selalu berubah-ubah

6.         Kritisisme: Immanuel Kant (1724-1804)
Rasio memiliki kemampuan menangkap kebenaran pengetahuan secara umum tetapi lemah terhadap pengetahuan konkret khusus. Sebaliknya pengalaman memiliki kekuatan mengenali setiap hal yang khusus tetapi kabur dalam prinsip-prinsip umum.


C.        PENDEKATAN OBJEKTIF
Menurut objek materinya, filsafat menyelidiki segala sesuatu yang ada, meliputi manusia, alam dan sang pencipta.

Menurut objek formanya, filsafat menyelidiki segala sesuatu yang ada dari seluruh segi mulai dari segi abstrak sampai segi konkret

D.        DEFENISI AKUMULATIF
Filsafat adalah pemikiran radikal, yaitu berpikir mendalam sampai ditemukan unsur-unsur inti secara sistematik bersama-sama menjadikan objek pemikiran itu ada sebagaimana halnya.

Pemikiran kefilsafatan adalah suatu kegiatan berpikir dengan metoda abstaksi, maksudnya mengabstaksikan yang konkret dengan melepaskan satu per satu hal-hal yang menempel pada objek.

KESIMPULAN DAN PENUTUP
Apa yang dimaksud Socrates tentang keterbatasan kemampuan manusia. Artinya manusia terbatas untuk menentukan suatu kebijaksanaan. Dan diperlukanlah suatu kebijaksanaan yang tidak menentang fitrah manusia, kebijaksanaan yang tidak memihak satu pribadi saja, dan kebijaksanaan yang bertahan lama. Menurut kami apa yang dimaksud semua itu adalah kebijaksanaan dari Tuhan, karena Tuhan Maha bijaksana dan mengetahui hal yang terbaik bagi ciptaannya, serta kebijaksanaan Tuhan itu pasti bertahan lama. Dan untuk memahami kebijaksanaan Tuhan harus memerlukan akal, rasa, dan hati nurani, sehingga akan timbul rasa mencintai kebijaksanaan Tuhan yang Tuhan tetapkan. Tersebab kebijaksanaan-Nya tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia.

Cinta adalah sebuah komitmen (kesungguh-sungguhan) atau  adanya usaha subjek untuk menyatu pada Objek, dan ketika subjek dan objek sudah bersatu, akan ada terjadinya komitmen saling melindungi dan menjaga. Sedangkan kebijaksana adalah pengambilan keputusan adil dan benar untuk mengatur, hidup manusia agar lebih indah.

Berfilsafat adalah kegiatan berpikir yang ekstrim atau kritis untuk mencari kebenaran. Apakah berpikir memikirkan maksud wahyu Tuhan tentang manusia yang Tuhan buat sebagai undang-undang bagi manusia, atau berpikir memikirkan kejadian-kejadian alam semesta sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Sehingga ketika kebenaran itu sudah diperoleh, maka akan dijabarkan dalam konsep mendasar dan akan timbul kebijaksanaan (pebuatan benar, baik, dan adil). Dan kebijaksanaan inilah yang mengubah masyarakat (manusia) menjadi masyarakat (manusia) yang berperadaban tinggi. Maka setelah manusia menjadi masyarakat berperadaban tinggi akan timbul rasa cinta terhadap kebijaksanaan yang tidak menentang fitrah manusia itu (kebijaksanaan yang tidak memihak satu individu).

Demikianlah hasil makalah kami, semoga bermanfaat bagi kehidupan kita semua. Dan kami mengaharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca terhadap makalah yang kami susun ini, agar kedepan makalah-makalah selanjutnya yang akan kami susun lebih sempurna dan sesuai dengan pembaca harapkan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-quranulkarim


Filsafat, dalam situs http://id.wikipedia.org dikunjungi 9 Januari 2011


Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan, (Ar-Ruzz Media, Jogyakarta: 2009)

Tidak ada komentar: