Pages

Kamis, 04 Oktober 2012

LANGKAH-LANGKAH BIMBINGAN DAN KONSELING (PENYULUHAN)


PENDAHULUAN
            Setelah mengetahui apa pengertian bimbingan dan konseling (peyuluhan). Seorang  konselor harus mengetahui langkah-langkah bimbingan dan konseling, dalam arti mengetahui cara apa saja yang dilewati seorang konselor menghadapi siswa yang bermasalah. 

 
Bedasarkan paragraph di atas, dalam pembahasan makalah ini, kami membahas mengenai langakah-langkah bimbingan dan konseling. Pembahasan ini akan meliputi :
A.  Mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan masalah peserta didik
  1. Menganalisis kebutuhan, tantangan, dan masalah dan latar belakang peserta didik.
  2. Mengetahui pemberian layanan bimbingan.
PEMBAHASAN
A.        Mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan masalah peserta didik
            Menurut Dewa Ketut dan Desak Made, langkah-langkah Mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan masalah peserta didik di sekolah terlebih dahulu diadakan Langkah Analisis, Langkah Sintesis dan selanjutnya diadakan Langkah Diagnosis, dan Prognosis. (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,: 30). Sedangkan menurut Syahril dan Riska, menyatakan terlebih dahulu diadakan; Identifikasi Kasus, dan Diagnosis.
1.         Langkah Analisis
            Menurut Dewa Ketut dan Desak Made. Langkah Analisis “adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan dari berbagai sumber. Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa. Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa; Tes prestasi belajar, Kartu pribadi siswa, Pedomana wawancara, Riwayat hidup, Catatan anekdot, Tes psikologis/Inventori, Daftar cek masalah, Angket, Sosiometri, dan Daftar cek.” (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati, : 30).
            2.         Langkah Sintesis
            Menurut Dewa Ketut dan Desak Made “Sintesis adalah langkah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis peyuluhan mengorganisasian dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.” (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati, : 31).
3.         Identifikasi Kasus
Tingkah laku seorang peserta didik yang harus dipahami oleh guru. Jikalau tingkah laku murid itu tidak seperti biasanya di dalam kelas. Maka guru harus  mencari tahu apa permasalahan yang di hadapi peserta didik. Dengan kata lain juga disebut dengan istilah identifikasi kasus. Menurut Syahril dan Riska, 1987 “identifikasi kasus yaitu usaha menemukan/menentukan siswa yang perlu mendapat bimbingan. Cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan ini adalah dengan jalan analisis hasil belajar, analisis karya tulis, pengisian DPM, observasi, sosiometri, dan sebagainya. (Syahril dan Riska, 1987:86).
            Artinya pada langkah ini, guru mengenali gejala-gejala awal suatu masalah yang dihadapi siswa. Untuk mengetahui gejala awal tidaklah mudah, karena harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan memperhatikan gejala-gejala yang nampak, itulah yang disebut identifikasi kasus, kemudian dianalisis dan selanjutnya dievaluasi.
Di dalam situs massofa.wordpress, 2008 menceritakan seorang siswa; “Benin seorang siswa yang mempunyai prestasi belajar yang bagus, untuk semua mata pelajaran ia memperoleh nilai diatas rata-rata kelas. Dia juga disenangi teman-teman maupun guru karena pandai bergaul, tidak sombong, dan baik hati. Sudah dua bulan ini Benin berubah menjadi agak pendiam, prestasi belajarnyapun mulai menurun. Sebagai guru Bimbingan Konseling, ibu Heni mengadakan pertemuan dengan guru untuk mengamati Benin. Dari hasil laporan dan pegamatan yang dilakukan oleh beberapa orang guru, ibu Heni kemudian melakukan evaluasi berdasarkan masalah Benin dengan gejala yang nampak. Selanjutnya dapat diperkirakan jenis dan sifat masalah yang dihadapi Benin tersebut. Karena dalam pengamatan terlihat prestasi belajar Benin menurun, maka dapat diperkirakan Benin sedang mengalami masalah ‘kurang menguasai materi pelajaran’. Perkiraan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan langkah selanjutnya yaitu diagnosis.” (wordpress.com, 2008).
            4.         Diagnosis
Setelah mengadakan identifikasi kasus atau dengan arti kata memperkirakan apa yang terjadi pada peserta didik, maka diadakan analisis masalah yang dihadapi peserta didik atau dengan kata lain menetapkan “masalah” yang berdasarkan analisis latar belakang yang menjadi penyebab timbulnya masalah, atau disebut dengan “diagnosis.”
Di dalam situs wikipedia, “diagnosis adalah identifikasi mengenai sesuatu. Diagnosis digunakan dalam medis, ilmu pengetahuan, teknik, bisnis, dll.” (wikipedia.com). Sedangkan menurut Dewa Ketut dan Desak Made, Diagnosis adalah langkah menemukan masalahnya atau mengindentifikasi masalah. (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,: 31). Selanjutnya Dewa Ketut dan Desak Made menjelaskan “langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan penyebab masalah, peyuluhan haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional.” (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,:31).
            Dijelaskan oleh Syahril dan Riska Langkah diagnosis atau langkah yang kedua ini (dalam bukunya) adalah “untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan serta latar belakang masalah yang dihadapi seseorang. Berdasarkan langkah kedua inilah kita dapat menetapkan apa kira-kira masalah seseorang serta apa penyebab dari masalah tersebut.” (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:86). Selanjut Syahril dan Riska menjelaskan “Cara yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan ini adalah dengan jalan analisis hasil belajar, analisis karya tulis, sosiometri, DPM, PSKB, angket, wawancara, observasi, pertemuan kasus, dan sebagainya.
            Artinya dalam langkah ini dilakukan kegiatan pengumpulan data mengenai berbagai hal yang menjadi latar belakang atau yang melatarbelakangi gejala yang muncul. Dalam situs massofa.wordpress, 2008 masih menceritakan kasus Benin tadi. “Pada kasus Benin, dilakukan pengumpulan informasi dari berbagai pihak. Yaitu dari orang tua, teman dekat, guru dan juga Benin sendiri. Dari informasi yang terkumpul, kemudian dilakukan analisis maupun sistesis dan dilanjutkan dengan menelaah keterkaitan informasi latar belakang dengan gejala yang nampak. Dari informasi yang didapat, Benin terlihat menjadi pendiam dan prestasi belajarnya menurun. Dari informasi keluarga di dapat keterangan bahwa kedua orang tua Benin telah bercerai. Berdasarkan analisis dan sistesis, kemudian diperkirakan jenis dan bentuk masalah yang ada pada diri Benin yaitu karena orang tuanya telah bercerai menyebabkan Benin menjadi pendiam dan prestasi belajarnya menurun, maka Benin sedang mengalami masalah pribadi.”(wordpress.com, 2008).
B.        Menganalisis Kebutuhan, Tantangan, Dan Masalah Peserta Didik
            Setelah melakukan semua yang berdasarkan di atas, maka seorang konselor melakukan Prognosis, Pemecahan masalah, penilaian (evaluasi), dan tindak lanjut (follow-up).
1.                  Prognosis
Menurut Sayhril dan Riska. “Prognosis merupakan usaha untuk menelaah/mengkaji masalah yang dialami seseorang, termasuk kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul jika masalah itu dibantu, serta memperkirakan teknik atau jenis bantuan yang akan diberikan kepada orang yang mengalami masalah tersebut.” (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:86). Atau dengan kata lain menurut Dewa ketut dan Desak Made Prognosis adalah “suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis. (Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati,:32).
2.         Pemecahan masalah/Terapi /Treatment
            Menurut Syahril dan Riska, “langkah ini berupa usaha untuk melaksanakan bantuan ataupun bimbingan kepada seseorang yang bermasalah, sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan pada langkah yang ketiga (Prognosis). Usaha pemecahan ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk bantuan, antara lain layanan individual, layanan kelompok, pengajaran perbaikan, pemberian pengajaran dan sebagainya. (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:86-87).
3.         Penilaian (evaluasi)
Menurut Syahril dan Riska, “Yaitu berupa usaha untuk melihat/meninjau kembali hasil bantuan yang telah dilaksanakan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melihat hasil belajar siswa yang bersangkutan, observasi tingkah laku sehari-hari dan sebagainya. (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:87).
4.                  Tindak Lanjut (Folow-Up)
Syahril dan Riska, “Yaitu berupa usaha untuk mengambil tindakan seperlunya yang akan dilaksanakan sehubungan dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. (Syahril dan Riska Ahmad, 1987:87).
C.        Mengetahui Pemberian Layanan Bimbingan.
Diringkas dari buku Pengantar Bimbingan dan Konseling karangan Drs. Syahril dan Dra. Riska Ahmad, halaman 87-98.
I.          LAYANAN INDIVIDUAL (PERORANGAN)
1.         Pendahuluan
            Pemberian bantuan yang diberikan secara individual lebih dikenal dengan istilah konseling (penyuluhan). Dalam konseling orang yang bermasalah (klien), dibantu secara individual.
            2.         Syarat Formal
a. Pendidikan : Seorang konselor hendaknya seseorang yang telah memperoleh gelar sarjana.
b. Pengalaman :  Seorang konselor hendaknya telah mempunyai pengalaman mengajar atau melaksanakan konseling selama dua tahun
3.         Syarat Kepribadian
-Bakat persekolahan yang cukup baik.-Minat yang cukup besar untuk bekerja dengan orang lain.-Memiliki kedewasaan emosional. Dan sebagainya.
            Menurut Prayitno (1981) yang dikutip oleh Syahril dan Riska, “keterampilan dimiliki konselor dalam hubunganya dengan konseling adalah :
*Mampu membina keakraban (report) dengan kliennya. *Mampu merasakan apa yang menjadi perasaan klien (empati). *Mampu menjadi pendengar yang baik.
            4.         Pendekatan Konseling.
            Secara umum 3 macam pendekatan dalam konseling itu:
1.Non directive (teknik tidak langsung), 2.Directive konseling, dan 3.Konseling .
II.        LAYANAN KELOMPOK (BIMBINGAN KELOMPOK)
1.         Pendahuluan
            Dalam hal ini masalah setiap siswa dipecahkan melalui situasi kelompok.
2.                  Jenis Kelompok
a. Kelompok Tugas : Yaitu kelompok yang berdasarkan  adanya suatu tugas yang akan dilaksanakan/diselesaikan.
b. Kelompok bebas  : Kelompok yang pada waktu terbentuknya, belum mempunyai tugas yang akan diselesaikan dalam hal ini, anggota bersama pimpinan kelompok merumuskan bersama apa-apa yang akan dikerjakan.
            3.         Anggota Kelompok
*Membantu terbinanya keakraban dalam kelompok.*Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kelompok.*Berusaha agar setiap yang dilakukan untuk membantu tercapainya tujuan bersama.*Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.*Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kelompok.*Mampu berkomunikasi secara terbuka.*Berusaha membantu anggota lain.*Memberikan kesempatan kepada anggota lain untuk juga memainkan peranannya. Dan *Menyadari pentingnya kegiatan kelompok.
            4.         Pemimbing Kelompok
- Peranannya : Merangsang diawalinya kegiatan-kegiatan kelompok dalam membantu terselenggaranya kegiatan secara baik dan menilai proses dinamika kelompok.
- Tipe pemimpin yang disenangi :
a.         Ikut serta dalam kegiatan kelompok.
b.         Menaruh perhatian terhadap segala yang terjadi dalam kelompok.
c.         Mampu membantu anggota dalam mengatasi berbagai masalah anggota kelompok, seperti rasa khawatir, rasa malu, dan sebagainya.
            5.         Langkah-Langkah Bimbingan Kelompok
a.   Berkumpulnya sejumlah orang yang akan menjadi anggota kelompok (tahap awal).
b.   Pelibatan anggota dalam kehidupan suatu kelompok (tahap pembentukan), missalnya dengan saling memperkenalkan diri termasuk pemimpin kelompok.
c.         Tahap peralihan.
d.   Pelaksanaan kegiatan. dan
e.         Pengakhiran kegiatan.
            6.         Penilaian Terhadap Bimbingan Kelompok
            Berhasil tidaknya kehidupan sebuah kelompok tergantung pada :
*Hubungan yang dinamis. *Tujuan bersama. *Hubungan besarnya kelompok dengan sifat kegiatan kelompok. *Itikat dan sikap terhadap orang lain.*Kemampuan mandiri.
III.       PENGAJARAN PERBAIKAN
1.         Pendahuluan
Remedial Teaching : usaha pemberian bantuan terhadap seseorang siswa yang mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar.
            2.         Langkah-Langkahnya
a.  Penelaahan terhadap status siswa dalam hubungannya dengan materi pelajaran. Untuk mencapai tujuan langkah ini, ada 3 hal yang perlu dilaksanakan; 1)Tujuan-tujuan khusus yang diharapkan siswa yang bersangkutan pada saat kesuliatan itu tampak. 2)Teknik-teknik apa yang dapat dipergunakan. 3)Menemukan perbedaan antara tujuan yang diharapkan dengan perbuatan nyata yang telah dimiliki siswa
b.  Perkiraan terhadap sebab-sebab kesulitan belajar yang di alami siswa tersebut. Ada 3 hal pokok yang perlu dilakukan sehubungan dengan langkah ini yaitu: 1)Mengetahui serta menyusun berbagai kemungkinan yang beralasan tentang faktor yang mungkin merupakan sebab kesulitan belajar siswa. 2)Menilai dan menentukan alasan yang paling tepat atau yang paling mendekati kenyataan. 3)Menarik kesimpulan tentang sebab-sebab itu.
c.  Pemecahan kesulitan belajar. Langkah ini meliputu 3 hal; 1)Menentukan teknik yang dapat digunakan untuk membantu memecahkan kesulitan belajar. 2)Memilih teknik penilaian yang paling tepat digunakan untuk menilai sejauh mana keberhasilan pemecahan kesulitan tersebut. 3)Menelaah hasil penilaian tersebut terhadap cara pemecahan kesulitan belajar yang telah dilakukan.
IV.       PEMBERIAN PENGAYAAN
1.                  Pengertian
Pengayaan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada siswa yang cepat dalam belajar. Siswa cepat belajar adalah siswa yang cepat dalam menerima pelajaran yang diberikan kepadanya.
2.                  Jenis Pengayaan
  1. Penyediaan bahan bacaan yang ada sangkut pautnya dengan topik yang sedang dipelajari.
  2. Penyediaan mata pelajaran pilihan di luar mata pelajaran wajib.
  3. Penyediaan labor, work shorp, dan sebagainya.
  4. Penyediaan program pengajaran individual.
2.         Langkah-Langkahnya
1.      Menemukan siswa yang perlu memperoleh program pengayaan.
2.      Memberikan informasi kepada sekolah misalnya oleh konselor pendidikan sehubungan dengan siswa yang cepat belajar.
3.      Pemberian bantuan (jenis-jenis pengayaan) sesuai dengan kebutuhan siswa yang bersangkutan serta program pengayaan yang disediakan sekolah.
V.        PEMBERIAN INFORMASI
            1.         Pendahuluan
            Pemberian informasi merupakan sejenis bantuan terhadap masalah yang diperkirakan akan dialami oleh seorang/sekelompok siswa.
Informasi yang akan diberikan meliputi:
a.         Kehidupan sekolah yang sedang mereka tempati misalnya tentang kurikulum sekolah,  jurusan-jurusan yang ada di sekolah, peraturan-peraturan sekolah dan sebagainya.
b.         Kehidupan sekolah/perguruan tinggi yang mungkin dimasuki siswa; misalnya tentang kehidupan di perguruan tinggi, syarat-syarat memasuki perguruan tinggi, fakultas/jurusan yang tersedia.
            2.         Langkah-Langkah Pemberian Informasi
a.         Menemukan masalah-masalah serta penyebab-penyebab masalah yang memerlukan pemberian informasi, misalnya adanya kenyataan bahwa banyak diantara siswa yang mengeluh karena mereka merasa jurusan yang mereka pilih tidak sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan serta cita-cita hidup mereka.
b.         Memberikan bantuan atau informasi sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.


KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dalam buku Dewa ketut dan Desak Made menjelaskan, mengenai seorang konselor yang menyikapi keseluruhan masalah-masalah atau keluhan-keluhan yang di hadapi siswa-siswa (berkelompok) di sekolah. Sedangkan dalam buku Syahril dan Riska Ahmad, seorang konselor yang menyikapi seorang siswa (individu) yang mulai bermasalah, namun dalam pembahasan mengenai teknik pemberian layanan bimbingan tidak terlepas dari seorang konselor yang menyikapi keluhan-keluhan semua siswa (kelompok).
Setiap guru dalam proses belajar dan mengajar di dalam kelas, minimal mengetahui ilmu tentang konselor termasuk itu mengetahui langkah-langkah bimbingan dan konseling (penyuluhan), agar proses belajar dan mengajar berjalan dengan baik dan cita-cita bangsa ini pun tercapai. Walaupun guru tersebut bukan lulusan dari bimbingan dan konseling. Minimal mengetahui cara mengatasi siswa yang bermasalah dalam kelas ketika jam pelajarannya.
Demikianlah makalah yang kami susun ini, semoga makalah yang kami susun ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi kita calon pendidik yang nantinya akan terjun ke dunia pendidikan.
Kritik dan saran kami harapkan dari pembaca agar ke depan dalam penyusunan makalah lebih baik dari yang sekarang ini.
 


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Diagnosis, Dalam situs http://id.wikipedia.org/wiki/Diagnosis, dikunjungi 22 Februari 2011

Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati, Pedoman Praktis Bimbingan Penyuluhan Di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta

Syahril dan Riska Ahmad, Pengantar Bimbingan dan Konseling, Padang:  Angkasa raya padang, 1987

Pakde sofa,  Langkah-langkah dalam Memberikan Bimbingan Konseling di Sekolah”, http://massofa.wordpress.com, 30 Oktober 2008

Tidak ada komentar: