Sunday, November 9, 2014

Makalah Turki Utsmani. Berdiri, Kemajuan, Pendidikan dan Kehancurannya.

Oleh: Herif De Rifhara

Daftar Kepustakaan
Daftar Kepustakaan.............................................................................................. 1
Kata Pengantar...................................................................................................... 2
BAB I
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 3
B.     Permasalahan............................................................................................. 4
BAB II
A.    Berdirinya Utsmaniyah............................................................................. 5
B.     Kemajuan Turki Utsmaniyah..................................................................... 8
C.     Pendidikan Di Masa Utsmaniyah.............................................................. 10
D.    Kehancuran Turki Utsmaniyah.................................................................. 11
BAB II
Kesimpulan dan Penutup...................................................................................... 15
Daftar Kepustakaan.............................................................................................. 16


Kata Pengantar
            Segala puji bagi Allah Swt yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Mengajarkan manusia dari yang tidak diketahuinya menjadi tahu tentang sesuatu hal dengan kalam tersebut.
Selawat dan salam ke atas junjungan Nabi besar kita Muhammad Saw yang telah diutus oleh Allah Swt kepada seluruh alam.
Semoga selawat dan salam juga tercurahkan ke atas keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikut beliau, dan juga pengikut-pengikut beliau SAW, yang ada di akhir zaman.
            Adapun selanjutnya dalam penulisan makalah ini membahas tentang Daulah Dinasti Turki Utsmani sebagai dosen pemimbing adalah Dr. Syamruddin Nasution, M.Ag.

Penulis

Pekanbaru, 25 Januari 2014

Bab I
A.                Latar Belakang
“Jika ada yang menyamai generasi awal kaum Muslim dalam cara hidup, keberanian, kemandirian dan kecepatan gerak, mungkin kaum Turki adalah salah satu kandidat kuatnya. Sama seperti suku Arab non-urban pada umumnya, kaum Turki adalah penunggang kuda alami dan hidup dialam terbuka.”[1]
Tiba-tiba saja mereka datang dan mendirikan kerajaan Islam; serta berjihad melawan para musuh Islam selama lebih dari enam abad. Dinasti Utsmani pernah berperang melawan Eropa, sampai-sampai memeranginya di jalan Allah dari empat arah penjuru angin. Di arah barat memerangi imperium Austria serta Spanyol, selatan Menghadang Portugis di Jazirah Arab, Utara menekan Rusia guna meredakan penindasan Rusia terhadap Muslim Tartar dan Muslim Circasia, timur memerangi Syi’ah yang bersekutu dengan Pasukan Salib untuk memerangi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah secara umum dan Kekhalifahan Utsmani secara khusus [2].
Dan yang menjadi catatan penting, sebagian diantara mereka adalah ahlu bisyarah yang menaklukkan Konstantinopel yang diberitakan oleh Rasulullah dalam Hadisnya dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul.
Penaklukan ini terjadi pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 M ketika masa Dinasti Turki Utsmani jilid 2 yang sebelumnya Dinasti Turki Utsmani jilid pertama terpecah-pecah ketika Beyazid I Sultan terakhir Turki Utsmani jilid pertama tertangkap oleh Timur Lenk dan meninggal dalam tahanan[3].
 Dimulainya sejarah Turki mengambil peran dalam dakwah serta pemerintahan Islamiyah ialah terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika itu Dinasti ini melewati 4 periode[4], ada yang mengatakan 5 periode[5]:
Periode pertama adalah periode Pengaruh Persia, Kedua Pengaruh Turki, Ketiga Pengaruh Bani Buwaihi, Keempat Turki Bani Seljuk, sedangkan dalam tulisan Badri Yatim disebutkan terbagi menjadi 5 periode dimana yang kelimanya adalah; tidak terpengaruh apapun.
Diperiode kedualah peran Turki mulai tampak ketika Khalifah Al-Makmun menunjuk Al-Muktasim menjadi Khalifah, sehingga karena kebijakan Al-Makmun menunjuk Al-Muktasim menjadi Khalifah maka terjadi pertentangan dari orang-orang Persia, karena orang-orang Persia menginginkan agar jabatan Khalifah diserahkan kepada anaknya Al-Makmun yakni Abbas tidak kepada Al-Muktasim, sehingga membuat Khalifah Al-Muktasim terpaksa memindahkan ibu kota dari Baghdad ke Samarra agar terlepas dari pengaruh orang-orang Persia dan usaha-usaha pembunuhan gelap. Karena hal inilah Khalifah Al-Muktasim seorang Khalifah yang terlanjur ditunjuk oleh Al-Makmun, menjadikan orang-orang Turki sebagai tentara keamanan Khalifah. Serta berlanjut kepada berdirinya Dinasti Seljuk yang mengambil peran terhadap masa Abbasiyah periode keempat.[6]

B.                 Permasalahan
1.      Bagaimana asal-usul terbentuknya kerajaan Turki Utsmani?
2.      Bagaimana kemajuan Kerajaan Turki Utsmani? 
3.      Bagaimana Pendidikan di Masa Utsmani?
4.      Bagaimana kemunduran dan kehancuran kerajan Utsmani?
BAB II
A.                Berdirinya Dinasti Turki Utsmani
Sejarah beridirinya Dinasti Turki Utsmani tidak terlepas dari peran Dinasti Turki Seljuk yang didirikan oleh Thugrul Bek (455 H/1063 M) selanjutnya diperintah berturut-turut oleh Alp Arselan (455-465H/1063-1072M), Maliksyah (465-485H/1072-1092), Mahmud (485-487H/1092-1094M), Barkiyaruq (487-498H/1094-1103), Maliksyah II  (498H/1103M), Abu Syuja’ Muhammadi (498-511H/1103-1117M), dan Abu Haris Sanjar (511-522H/1117-1128M). Dan pemerintahan ini disebut Al-Salajikah Al-Kubra (Seljuk Besar atau Seljuk Agung).[7]
Pada masa Thugrul Bek, Turki Seljuk sebelum membebaskan Baghdad dari Syi’ah, sebelumnya mereka telah menguasai daerah Marwa dan Naisabur, Balkh, Jurjan, Tabaristan, Khawarizm, Ray dan Isfahan dan terus menerus melakukan Ekspansi. Sehingga wilayah-wilayah dibagi menjadi lima bagian: Seljuk Besar, Seljuk Kirman, Seljuk Irak dan Kurdistan, Seljuk Syiria, serta Seljuk Rum.[8]
Dan Seljuk Rum adalah Seljuk yang menguasai daerah Khawarizm dan Asia Kecil, di tempat inilah  penguasa daerah Khawarizm dan Asia Kecil atau Seljuk Rum yakni Sultan Alaudin (Sultan Terakhir Seljuk Rum)  menerima kedatangan kerabat-kerabat mereka dari Khurusan pada abad ke 13 M akibat pengusiran bangsa Mongol. Mereka-mereka inilah yang nantinya mendirikan Dinasti Turki Utsmani. Dan Bangsa Mongol dalam catatan sejarah disebutkan bahwa mereka masih 1 kerabat atau 1 keturunan dengan Seljuk dan Utsmani.[9]
Ertoguhl (Berkuasa 1230-1281)[10] dan ada yang mengatakan sampai tahun 1289 M[11], beliau adalah pemimpin orang-orang Turki dari Khurusan yang membantu Sultan Alaudin dalam mengahadapai dan dapat mengalahkan serangan pertama Mongol, akibat jasa-jasa orang-orang Turki Utsmani yang dipimpin Ertoguhl dari Khurusan ini, mereka mendapat hadiah berupa sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan  dengan Ibu Kota Byzantium Yakni Konstantinopel.[12]
Tetapi ketika itu status Ertoghul bukan sabagai Sultan melainkan Gubernur di daerah Asia Kecil. Sampai Sultan Alaudin terbunuh ketika serangan Mongol yang ke-dua pada tahun 1300 M. Terbunuhnya Sultan menandakan berakhirnya Kesultanan Seljuk Rum. Serangan mongol itu dibantu pula oleh kaum Muslimin yang telah ditaklukkan oleh Mongol sebelumnya.[13]
Sehingga orang-orang Turki terpecah-pecah sampai lahirnya Usman  I dari  Kabilah Oghuz keturunan Ertoghul sebagai pendiri Turki Utsmani yang dapat menyatukan seluruh Kabilah-Kabilah Turki, baik Turki Utsmani maupun Turki Seljuk dan mengklaim hak penuh terhadap Daerah Asia Kecil yang mereka duduki.[14]
Masa ini saya menyebutnya sebagai masa pemerintahan Dinasti Turki Utsmani jilid 1. Berakhirnya masa pemerintahan Dinasti Utsmani jilid I akibat serangan Timur Lenk ke Baghdad dan menangkap Beyazid I sampai Beyazid terbunuh di penjara. Dan jilid keduapun mulai berdiri ketika Sultan Muhammad I membunuh saudara-saudaranya yakni Isa, Musa, dan Sulaiman yang sebelumnya mereka bertiga adalah Sultan Turki Utsmani namun pada masa mereka bertiga termasuk juga masa Sultan Muhammad I Bangsa Turki atau Kabilah-Kabilah Turki masih dalam keadaan terpecah-pecah. Penyatuan itu kembali terjadi pada masa Murad II[15]
Adapun Sultan-Sultan serta Khalifah-Khalifah yang telah memimpin Dinasti Turki dari Khurasan, sebelum dan sesudah berdirinya Utsmaniyah ialah:
No
Nama
Berkuasa Sejak
Berkuasa Hingga
 -
1230
1281
 -
1281
1299

Pendirian Kesultanan Utsmaniyah (27 Juli 1299 – 20 Juli 1402) oleh Utsman I
1
Utsman I
1299
1324
2
1324
1362
3
1362
4


Ottoman Interregnum, Masa Perpecahan Turki Utsmaniyah (20 Juli 1402 – 5 Juli 1413)
 -
1403
1405
 -
17 Februari 1411
 -
18 Februari 1411
5 Juli 1413
 -
Muhammad I
1403 – 1406

(Sultan of the Eastern Anatolian Territory)


1406 – 1413


Kebangkitan Kesultanan Utsmaniyah (5 Juli 1413 – 29 Mei 1453) yang sebenarnya dimulai oleh Murad II
5
Muhammad I
26 Mei 1421
6
25 Juni 1421
1444
7
Muhammad II (Al-Fatih)
1444
1446
 -
Murad II
1446
3 Februari 1451

Perkembangan Kesultanan Utsmaniyah (29 Mei 1453 – 11/12 September 1683) dimulai oleh Al-Fatih
 -
Muhammad II (Al-Fatih)
3 Februari 1451
3 Mei 1481
8
19 Mei 1481
25 April 1512

Perubahan Sisitem Pemerintahan dari Kesultanan Islamiyah menjadi Kekhalifahan Islamiyah
9
Salim I
25 April 1512
21 September 1520
10
Sulaiman I
30 September 1520
6 atau 7 September 1566
11
Salim II
29 September 1566
21 Desember 1574
12
Murad III
22 Desember 1574
16 Januari 1595
13
Muhammad III
27 Januari 1595
20 or 21 Desember 1603
14
Ahmad I
21 Desember 1603
22 November 1617
15
Mustafa I
22 November 1617
26 Februari 1618
16
Utsman II
26 Februari 1618
19 Mei 1622
 -
Mustafa I
20 Mei 1622
10 September 1623
17
Murad IV
10 September 1623
8 or 9 Februari 1640
18
Ibrahim I
9 Februari 1640
8 Agustus 1648
19
Muhammad IV
8 Agustus 1648
8 November 1687

Stagnasi Kekhalifahan Utsmaniyah (11/12 September 1683 – 20 Oktober 1827)
20
Sulaiman II
8 November 1687
22 Juni 1691
21
Ahmad II
22 Juni 1691
6 Februari 1695
22
Mustafa II
6 Februari 1695
22 Agustus 1703
23
Ahmad III
22 Agustus 1703
1 or 2 Oktober 1730
24
Mahmud I
2 Oktober 1730
13 Desember 1754
25
Utsman III
13 Desember 1754
29 or 30 Oktober 1757
26
Mustafa III
30 Oktober 1757
21 Januari 1774
27
Abdul Hamid I
21 Januari 1774
6 or 7 April 1789
28
Salim III
7 April 1789
29 Mei 1807
29
Mustava IV
29 Mei 1807
28 Juli 1808
30
Mahmud II
28 Juli 1808
1 Juli 1839

Masa-masa Kemunduran Kekhalifahan Utsmaniyah (20 Oktober 1827 – 24 Juli 1908)
31
Abdul Majid I
1 Juli 1839
25 Juni 1861
32
Abdul Aziz I
25 Juni 1861
30 Mei 1876
33
Murad V
30 Mei 1876
31 Agustus 1876
34
Abdul Hamid II
31 Agustus 1876
27-Apr-09

Peroses Pembubaran Kekhalifahan Utsmaniyah (24 Juli 1908 – 30 Oktober 1918)
35
Muhammad V
27-Apr-09
03-Jul-18

Pembagian Kekhalifahan Utsmaniyah (30 Oktober 1918 – 1 November 1922)
36
Muhammad VI
04-Jul-18
1 November 1922

Republican Caliphate atau Republik Khilafah Boneka (18 November 1922 – 3 Maret 1924) sebagai bentuk meredam amarah rakyat atas pembubaran Khilafah.
 -
Abdul Majid II
18 November 1922
03-Mar-24[16]

B.                 Kemajuan Kerajaan Turki Utsmani
Dimulainya kemajuan Turki Utsmani tidak lain pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih, namun awal kemajuan ini tidak terlepas dari didikan Ayah sang Ghazi (Kesatria) Islam ini, yakni Sultan Turki Utsmani Murad II serta dua Ulama yang dipercayai oleh Murad II untuk mendidik Sultan Al-Fatih yaitu, Syaikh Ahmad Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Dan keinginan keras Al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel tidak lain adalah hasil didikan Syaikh Aaq Syamsuddin, yang senantiasa mendidikan Sultan Penakluk ini dengan Sejarah dan Hadis-Hadis Nabi. Setelah melakukan penaklukkan Konstantinopel selama 54 hari, selanjutnya Al-Fatih melakukan ekspansi-ekspansi ke daerah-daerah Eropa lainnya untuk menuju Kota Roma, hal ini dikarenakan motivasi hadits Nabi yang disimpulkan sebagai berikut “Konstantinopel akan ditaklukkan terlebih dahulu, kemudian barulah kota Roma” namun sayang cita-cita untuk membebaskan Roma tak tercapai beliau meninggal diumur 49 tahun karena sakit.[17]
Di masa Al-Fatihlah sumbangan terhadap kebangkitan Eropa dimulai. Dimulai dari komando ketentaraan hanya mutlak dipegang oleh Sultan bukan Menteri-Menteri ataupun Gubernur. Baris-berbaris, teknologi persenjataan perang dan keharomonisan beragama yang ditonjolkan oleh kekhilafahan Utsmaniyah, terlihat ketika penakulukkan Konstantinopel, Al-Fatih tidak memaksa orang-orang Kristen Yunani untuk masuk Islam. Sehingga dari toleransi ini di dunia barat memnuculkan gerakan HAM (Hak Azazi Manusia) inilah peradaban sejarah Islam yang direkam oleh sejarah.[18]
            Sebagaimana Dinasti Umayyah yang melakukan ekspansi-ekspansi perluasan daerah, begitu juga Utsmani setelah melakukan perluasan, maka masa-masa ketentraman dan keamanan negara pun terjadi. Namun pada masa Bayezid II yang lebih suka perdamaian, daerah Granada yang merupakan benteng terakhir Umat Islam di Andalusia jatuh, padahal ketika itu Turki Utsmani Negara terkuat dan ditakuti Eropa.[19]
            Sedangkan pada masa Salim I sistem pemerintahan Kesultanan berubah menjadi sistem Kekhalifahan. Dimasanya usaha-usaha untuk menyatukan Umat Islam pun terjadi, ketika daerah-daerah Islam lainnya lebih cendrung kepada perdamaian dengan tentara Salib dan Portugis dan enggan menghadapi Portugis yang menguasai Yerussalem, seperti Dinasti Mamalik di Mesir. Terlebih lagi kelompok Syi’ah yang berkerja sama dengan Salabis dalam memerangi Ahlus Sunnah secara umum dan secara khusus memerangi Utsmaniyah. Selanjutnya pada masa Sulaiman I perundang-undangan dibuat sebagai suatu kejelasan hukum ketertatanegaraan yang disebut Multaqa al-Abhur, Undang-undang ini menjadi pegangan hukum bagi Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad 19. Undang-undang ini memiliki arti historis yang sangat penting karena merupakan undang-undang pertama di dunia. [20]
            Dan perundang-undangan ini dibuat tidak lain sebagai landasan hukum bagi yang melanggar suatu ketertiban yang sudah disepakati, dan undang-undang inilah yang dicontoh oleh negara-negara yang ada saat ini, termasuk Indonesia yang selalu mengatakan Negara yang berdasarkan Undang-Undang.
Menurut Ajid Tahir dalam bukunya menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan sehingga Turki Usmani memperoleh kemajuan antara lain :
a.              Adanya sistem pemberian hadiah berupa tanah kepada tentara yang berjasa.
b.             Tidak adanya diskriminasi dari pihak penguasa.
c.              Kepengurusan organisasi yang cakap.
d.             Pihak Turki memberikan perlakuan baik terhadap saudara-saudara baru dan memberikan kepada mereka hak rakyat secara penuh.
e.              Turki telah menggunakan tenaga-tenaga profesional dan terampil.
f.              Kedudukan sosial orang-orang Turki telah melirik minat penduduk negeri-negeri Balkan untuk memeluk agama Islam.
g.             Rakyat memeluk agama Kristen hanya dibebani biaya perlindungan (jizyah) yang relatif murah dibandingkan pada masa Bizantium.
h.             Semua penduduk memperoleh kebebasan untuk menjalankan kepercayaannya masing-masing.
i.               Wilayah-wilayah Turki menjadi tempat perlindungan orang-orang Yahudi dari serangan kerajaan Kristen di Spanyol dan Portugal pada abad XVI.[21]
Selanjutnya saya menambahkan bahwa keberhasilan Turki Utsmaniyah disebabkan, karena mereka kembali kepada penafsiran tradisional (generasi Salaf) yang sebelumnya mulai memudar atau juga bisa dikatakan kembali kepada hadits-hadits Nabi dalam menafsirkan ataupun menjelaskan Al-Quran, terlihat pada masa Al-Fatih dimana ditiap-tiap kelompok pasukan pejuang pembebesan Konstantinopel dan pejuang Pembebasan Kota Roma dibimbing oleh satu orang ulama. Dan Al-Fatih sendiri termotivasi untuk menaklukkan konstantinopel karena Hadits Nabi Muhammad Saw.[22] Ini menunjukkan bahwa mereka kembali kepada Al-Quran dan Sunnah.
C.                Pendidikan Di Masa Utsmaniyah
Adapun aspek-aspek intelektual yang dicapai yaitu:
a.                   Terdapat dua buah surat kabar yang muncul pada masa itu, yaitu berita harian terkini Feka (1831) dan jurnal Tasfiri efkyar (1862) dan terjukani ahfal (1860).
b.                  Terjadi tranfomasi pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah (1881) dan perguruan tinggi (1869), juga mendirikan Fakultas kedokteran dan fakultas Hukum. Disamping itu para belajar yang berprestasi dikirim ke Prancis untuk melanjutkan studinya, yang sebelumnya itu tidak pernah terjadi.[23]
Sedangkan pada masa Sultan Mahmud II ada beberapa usaha pembaharuan dalam bidang pendidikan antara lain:
a.                  Pendidikan Umum
Pendidikan Umum pada masanya hanya pendidikan madrasah yang mengajarkan ilmu agama. Ia merasa perlu untuk memasukkan pengetahuan umum di Madrasah tersebut. Hal ini mendapat tantangan dari para Ulama. Tahun 1838 ia berhasil mendirikan Sekolah umum.
b.                  Pendidikan Militer
Tahun 1826 ia membentuk suatu korps tentara baru dibawah asuhan pelatih yang dikirim Muhammad Ali Pasya dari Mesir.[24]
Sedangkan ketika Mustafa Kemal Attartuk seorang Politikus yang meruntuhkan Daulah Utsmaniyah menyerukan agar di dalam bidang pendidikan diadakan; Weternisasi dan Sekularisasi.[25]

D.                Kemunduran Dan Kehancuran Kerajan Utsmani
Untuk menjelaskan faktor-faktor kemunduran dan kehancuran Utsmani penulis akan mnyuguhkan tulisan dari blog atau website: http://sentraledukasi.blogspot.com/2013/10/makalah-kerajaan-turki-utsmani.html
Mengamati sejarah keruntuhan Kerajaan Turki Usmani, dalam bukunya Syafiq A. Mughani melihat tiga hal kehancuran Turki Usmani, yaitu melemahnya sistem birokrasi dan kekuatan militer Turki Usmani, kehancuran perekonomian kerajaan dan munculnya kekuatan baru di daratan Eropa serta serangan balik terhadap Turki Usmani.
1.      Kelemahan para Sultan dan sistem birokrasi
Ketergantungan sistem birokrasi sultan Usmani kepada kemampuan seorang sultan dalam mengendalikan pemerintahan menjadikan institusi politik ini menjadi rentang terhadap kejatuhan kerajaan. Seorang sultan yang cukup lemah cukup membuat peluang bagi degradasi politik di kerajaan Turki Usmani. Ketika terjadi benturan kepentingan di kalangan elit politik maka dengan mudah mereka berkotak-kotak dan terjebak dalam sebuah perjuangan politik yang tidak berarti. Masing-masing kelompok membuat kualisi dengan janji kemakmuran, Sultan dikondisikan dengan lebih suka menghabiskan waktunya di istana dibanding urusan pemerintahan agar tidak terlibat langsung dalam intrik-intrik politik yang mereka rancang. Pelimpahan wewenan kekuasaan pada perdan menteri untuk mengendalikan roda pemerintahan. Praktik money politik di kalangan elit, pertukaran penjagaan wilayah perbatasan dari pasukan kefelerike tangan pasukan inpantri serta meluasnya beberapa pemberontakan oleh korp Jarrisari untuk menggulingkan kekuasaan merupakan ketidak berdayaan sultan dan kelemahan sistem birokrasi yang mewarnai perjalanan kerajaan Turki Usmani.
2.      Kemerosotan kondisi sosial ekonomi
Perubahan mendasar terjadi terjadi pada jumlah penduduk kerajaan sebagaimana terjadi pada struktur ekonomi dan keuangan. Kerajaan akhirnya menghadapi problem internal sebagai dampak pertumbuhan perdagangan dan ekonomi internasional. Kemampuan kerajaan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai melemah, pada saat bangsa Eropa telah mengembangkan struktur kekuatan ekonomi dan keuangan bagi kepentingan mereka sendiri. Perubahan politik dan kependudukan saling bersinggungan dengan perubahan penting di bidang ekonomi. Esentralisasi kekuasaan dan munculnya pengaruh pejabat daerah memberikan konstribusi bagi runtuhnya ekonomi tradisional kerajaan Turki Usmani.
3.      Munculnya kekuatan Eropa
Munculnya politik baru di daratan Eropa dapat dianaggap secara umum faktor yang mempercepat proses keruntuhan kerajaan Turki Usmani. Konfrontasi langsung pada dengan kekuatan Eropa berawal pada abad ke XVI, ketika masing-masing kekuatan ekonomi berusaha mengatur tata ekonomi dunia. Ketika kerajaan Usmani sibuk membenahi Negara dan masyarakat, bangsa Eropa malah menggalang militer, Ekonomi dan tekhnologi dan mengambil mamfaat dari kelemahan kerajaan Turki Usmani.[26]
Faktor-faktor keruntuhan Kerajaan Turki Usmanin dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu: secara internal dan eksternal, secara internal, yaitu:
Ø Luasnya wilayah kekuasaan dan buruknya sistem pemerintahan yang ditangani oleh orang-orang berikutnya yang tidak cakap, hilangnya keadilan, merajalelanya korupsi dan meningkatnya kriminalitas, merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap keruntuhan kerajaan Usmani,
Ø Heterogenitas penduduk dan agama,
Ø Kehidupan yang istimewa dan bermegahan dan
Ø Merosotnya perekonomian Negara akibat peperangan Turki mengalami kekalahan.
Secara eksternal, yaitu:
Ø Timbulnya gerakan nasionalisme bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan Turki berkuasa, mulai menyadari kelemahan Dinasti tersebut,
Ø Terjadinya kemajuan tekhnologi di Baratn, khususnya dalam bidang persenjataan. Sedangkan Turki mengalami stagnasi Ilmu pengetahuan sehingga jika terjadi perang, Turki selalu mengalami kekalahan.
Perang dunia pertama melengkapi proses kehancuran kerajaan Turki Utsmani, pada bulan desember 1914, Turki Usmani melibatkan diri dalam perang dunia dan berada di pihak Jerman dan Austria. Bantuan militer dan ekonomi Jerman, kekuatan terhadap kekuatan Rusia serta keinginan keinginan untuk menyelamatkan kendali Turki Usmani menjadi alasan ketelibatan Turki dalam peristiwa tersebut. Pada tahun 1918, aliansi bangsa-bansa Eropa mengalahkan aliansi militer Jerman, Turki dan Austria. Memasuki tahun 1920, kerajaanTurki Utsmani kehilangan keseluruhan propinsi yang ada di semenanjung Baalka, Mesir menjadi kemudian Negara protektorat Inggris dan bebas secara total dari kekuasaan kerajaan Turki Utsmani.[27]
            Sebagaimana Daulah-Daulah Islamiyah sebelumnya yang runtuh. Di dalam buku Dr. Syamruddin Nasution disebutkan bahwa salah satu akibat kemunduran Utsmaniyah adalah terjadinya kemorosotan moral yang menimpa Sultan Murad II sehingga terjadi kekecauan dimana-mana, ditambah lagi Sultan Muhammad III yang bermoral lebih jelek lagi. Karena terjadinya kekacauan dimana-mana, Austria berhasil memukul mundur Utsmaniyah. Dan juga terjadi pemberontakan-pemberontakan Daerah atau Provinsi yang ada di Utsmaniyah yang menginginkan kemerdekaan lepas dari Utsmaniyah.[28]
BAB III
Kesimpulan dan Penutup
            Dari paparan diatas bahwa salah satu penyebab keruntuhan Turki Utsmaniyah ialah mereka lupa akan sepak terjang dan penghkianatan-penghkianatan yang selalu dilakukan oleh Yahudi. Yang sebelumnya pernah mereka buat di zaman Rasulullah Saw. Sehingga Rasulullah Saw. Memerangi mereka atas pengkhianatan-pengkhianatan Yahudi atas Islam sampai-sampai Rasulullah Saw memerangi pusat pertahanan terkahir mereka di Jazirah Arab yakni di Kota Khaibar.
Ini menunjukkan bahwa kemajuan Umat Islam tidak lain berawal dari Al-Quran dan Sunnah, bukan Filsafat ataupun yang sejenis dengannya. Dimana di dalam Al-quran dan Sunnah tidak hanya memuat masalah-masalah hukum syari’at tetapi juga mengenai sejarah-sejarah yang mesti menjadi pembelajaran untuk masa depan. Sebagaimana generasi para Salaf mereka berhasil menaklukkan wilayah-wilayah yang lebih kuat dan lebih banyak jumlahnya dari generasai Salaf tersebut. Tidak lain mereka berangkat dari Al-Quran dan Sunnah. Sebagaimana Al-quran menjelaskan:
            “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mukminin) di Medan peperangan yang banyak dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (Q.S. At-Taubah [9]: 25).
            Sebagaimana Dinasti-Dinasti yang lain, Utsmaniyah Hancur karena terlena dengan kemenangan demi kemenangan dalam pertempuran sehingga dari kemengan demi kemengan tersebut mendapatkan harta rampasan perang, apakah itu berupa barang yang ditinggal pemiliknya atau barang tambang yang ada diwilayah taklukkan. Karena kekayaan yang melimpah membuat mereka terpana. Walaupun demikian dari sejarah Utsmaniyah ini mengajarkan kepada kita bahwa Islam tidak mesti disebarluaskan oleh bangsa Arab ataupun keturunan Rasulullah Saw. Demikianlah makalah ini mudah-mudahan bermanfaat.
Daftar Kepustakaan
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013).

Felix Y. Siauw, Muhammad Al-Fatih 1453 (Jakarta: AlFatih Press, 2013).

http://feryntina.blogspot.com/2013/04/sejarah-peradaban-islam-turki-usmani.html.

http://id.wikipedia.org/wiki/Khalifah.

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_sultan_Utsmaniyah.

http://sentraledukasi.blogspot.com/2013/10/makalah-kerajaan-turki-utsmani.html.

Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam Masa Klasik, (Pekanbaru:  Yayasan Pusaka Riau, 2010).

Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2013).

Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013).

Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensikloped Sejarah Islam, Jilid. 2, ter. Arif Munandar Riswanto, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013).

Yusuf Al-Qaradhawi, Distorsi Sejarah Islam, ter. Arif Munandar Riswanto, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013).

Daftar Ralat

1.     Di dalam situs http://sentraledukasi.blogspot.com/2013/10/makalah-kerajaan-turki-utsmani.html, buku-buku yang menjadi refrensinya ialah:

Ali, K. A, Study Of Islamic History, Diterjemahkan Oleh Ghufron A. Mas adi, Sejarah Islam: Tarikh Pramodern. ( Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

Black, Anthony, The History Of Islamic Political Though rom The Prophet To The Present, Dialihbahasakan oleh Abdullah Ali. Jakarta: Jakarta: Seranbi Ilmu Semesta, 2006.

Hitti, Phillip, K. History Of The Arabs ; rom Earliest Times To The Present, Dialihbahasakan oleh Cecep Lukman, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.

Ibrahim, Hassan, Islamic History And Culture. Dialihbahasakan oleh Djahdan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Kota Kembang, 1989.

Mahmudunassir, Islam; Konsepsi Dan Sejarah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.

Mughani, Syafik, A, Sejarah Kebudayaan Islam Di Turki, Cet. I; Jakarta: Logos, 1997.

Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Melacak Akar-Akar Sejarah, Sosial Politik Dan Budaya Ummat Islam, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Yatim, Badri, Sejarah Dan Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Gra indo Persada, 2001.

2.     Dalam paragraf Faktor-faktor kemunduran point 1 dan 2 hal 11-12. Tapi saya mulai dari point ke-2 yaitu: Kemerosotan kondisi sosial ekonomi.
(Perubahan mendasar terjadi terjadi pada jumlah penduduk kerajaan sebagaimana terjadi pada struktur ekonomi dan keuangan. Kerajaan akhirnya menghadapi problem internal sebagai dampak pertumbuhan perdagangan dan ekonomi internasional. Kemampuan kerajaan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai melemah, pada saat bangsa Eropa telah mengembangkan struktur kekuatan ekonomi dan keuangan bagi kepentingan mereka sendiri.) tulisan ini kutipan dari buku Badri Yatim yaitu Sejarah dan Peradaban Islam thn 1997. Yg dikutip situs diatas.

3.     Point ketiga kelanjutan no dua di atas yaitu hal 12-13 poitn 3. Munculnya kekuatan Eropa
(Munculnya politik baru di daratan Eropa dapat dianaggap secara umum faktor yang mempercepat proses keruntuhan kerajaan Turki Usmani) kutipan dalam buku Ajid Thahir Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam 2004. Yg dikutip situs diatas.

4.     Hal 10 yaitu pin b. Terjadi tranfomasi pendidikan, (dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar dan menengah (1881) dan perguruan tinggi (1869), juga mendirikan Fakultas kedokteran dan fakultas Hukum. Disamping itu para pelajar yang berprestasi dikirim ke Prancis untuk melanjutkan studinya, yang sebelumnya itu tidak pernah terjadi) kutipan dari buku Ajid Tahir , op. cit. h.187-188, 2004. Yang dikutip situs di atas.

5.     Selanjutnya saya tidak memasukkan kemajuan dalam bidang keagamaan dalam sub bab yg berjudul Pendidikan pada masa Utsmaniyah hal 10.




[1] Felix Y. Siauw, Muhammad Al-Fatih 1453, (Jakarta: AlFatih Press, 2013), h. 27.
[2] Tim Penulis, Ensikloped Sejarah Islam, J. 2, ter.  Arif Munandar Riswanto (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013).
[3] Felix Y. Siauw, Op. Cit.
[4] Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam Masa Klasik, (Pekanbaru:  Yayasan Pusaka Riau, 2010). h. 210-211.
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013).
[6] Syamruddin Nasution, Op. cit. Dan baca juga tulisan Felix Y. Siauw dan Badri Yatim.
[7] Badri Yatim, Op. Cit.
[8] Ibid.
[9] Ibid. Lihat juga di Syamruddin Nasution, 2010. Dan Felix Y. Siauw, 2013.
[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_sultan_Utsmaniyah
[11] Badri Yatim, Op. cit.
[12]  Ibid.
[13] Tim Penulis, Ensiklopedi Sejarah Islam, Jilid. 2, ter. Arif Munandar Riswanto, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), h. 141-144
[14] Syamruddin Nasution,  Badri Yatim, Serta dalam situs http://feryntina.blogspot.com/2013/04/sejarah-peradaban-islam-turki-usmani.html.
[15] Badri Yatim, Felix Y. Siauw Dan lihat juga Tim Penulis, Ensiklopedi Sejarah Islam, J. 2, ter. Arif Munandar Riswanto, h. 161, 2013.
[16] Dalam situs http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_sultan_Utsmaniyah.
[17] Felix Y. Siauw, Op. Cit.
[18] Yusuf Al-Qaradhawi, Distorsi Sejarah Islam, ter. Arif Munandar Riswanto, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013).
[19] Tim Penulis, Ensikloped Sejarah Islam, J. 2. Op. cit.
[20] Ibid.
[21] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Melacak Akar-Akar Sejarah, Sosial Politik Dan Budaya Ummat Islam, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2004. Dikutip oleh situs http://sentraledukasi.blogspot.com
[22] Felix Y. Siauw, Op. cit.
[23] Ajid Thohir. Op cit. Dikutip oleh situs http://sentraledukasi.blogspot.com/2013/10/makalah-kerajaan-turki-utsmani.html.
[24] Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), h. 200-201.
[25] Ibid.
[26] Syafiq A. Mughani, Sejarah Kebudayaan Islam Di Turki, Dikutip oleh situs http://sentraledukasi.blogspot.com
[27] Ajid Thahir dikutip oleh situs http://sentraledukasi.blogspot.com/2013/10/makalah-kerajaan-turki-utsmani.html
[28] Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam, (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2013).

No comments: