Thursday, November 6, 2014

Makalah Asal Usul Istilah Tasawuf

Makalah Asal Usul Istilah Tasawuf
Oleh: Herif De Rifhara
Kata Pengantar
                                                                                                                                   
Banyak kekurangan-kekurangan yang kami rasakan dalam penulisan Makalah yang kami kumpulkan dari berbagai sumber ini. Dikarenakan kami belum begitu paham tentang ilmu tasawuf itu. Ada yang mengatakan ilmu tasawuf adalah ilmu yang sesat dan haram apabila mempelajari tasawuf tersebut. Sehingga kami ragu untuk mengambil sumber yang mengatakan tasawuf sesat dan haram dipelajari. Walau demikian kami terus mencari sumber-sumber tentang ilmu tasawuf dari berbagai sumber, sampai pada ahkirnya kami dapat juga menyusun Makalah kelompok kami yang berjudul ASAL USUL ISTILAH TASAWUF SERTA DALIL-DALIL AL-QURAN dan HADITSNYA. Penjelasan tentang tasawuf selanjutnya akan dijelaskan oleh kelompok lain.


Kesempurnaan hanya milik Allah Swt. Hanya kepada-Nyalah kami kembalikan segala urusan. Segala kekurangan dalam penjelasan makalah Ilmu Tasawuf yang kami susun dari berbagai sumber ini sangat kami rasakan, karena itu kami memohon ampun kepada Allah Swt atas segala kekurangan. Dan tidak lupa juga shalawat dan salam kami sampaikan kepada junjugan Nabi besar kita Muhammad Saw, sekaligus utusan Allah Swt yang di utus kepada manusia agar manusia tidak hidup berlebih-lebihan dan mengonsumsi prilaku hidup boros.

PENDAHULUAN
                                                                                                                                  
Banyak orang Islam yang antipati kepada tasawuf, tetapi banyak juga kelompok orang yang sangat mengagungkan tasawuf bahkan tarekat. Sebagai seorang muslim yang mencintai ilmu, kita harus memahami secara kritis apa dan bagaimana tasawuf dan tarekat itu, sehingga kita bisa menyikapinya secara proporsional.

Tasawuf pada hakikatnya adalah ajaran tentang latihan pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga manusia mencapai kualifikasi akhlak yang baik, yakni jiwa yang taqarrub (dekat kepada Allah) dan ma’rifatullah  (mengetahui Allah dengan ilmu).

Bagi Iman al-Ghazali, juga bagi para ulama yang tafaqquh fiddin, tasawuf yang benar adalah tasawuf yang berlandaskan dalil Al-Qur’an dan hadits shahih. Oleh karena itu segala ajaran tasawuf yang tidak memiliki rujukan yang absah dianggap sebagai ajaran yang diada-adakan, dan itu bathil.

Pada abad kedua hijriyah, di masa dinasti Umayah, wilayah kekuasaan Islam sangat luas mencakup seluruh jazirah Arab, Sebagian Eropa Timur termasuk Spanyol, bahkan sampai ke pintu gerbang Wina. Umat Islam bukan menjajah tetapi menjadikan wilayah – wilayah baru itu sebagai kekuasaan otonomi yang menginduk kepada pusat. Negara-negara Islam menjadi kaya raya. Akan tetapi ada akibat lain yakni banyak pejabat negara dan sebagian umat Islam  terkena penyakit “wahan” yakni bersikap materealistik dan individualistik. Penyakit ini pun merambah kepada sebagian ulama. Ulama-ulama yang lain yang ingin mempertahankan hidup zuhud sebagaimana nabi  SAW dan para sahabatnya, merasa khawatir terkontaminasi penyakit “wahan” ini lantas pergi jauh ke luar kota. Mereka hijrah ke tempat terpencil untuk menjauhi glamour dunia, ini disebut uzlah. Di tempat terpencil ini mereka melatih diri untuk hidup sederhana atau hidup zuhud. Mereka melepaskan pakaian-pakaian yang mewah lantas menggantinya dengan pakaian yang sangat sederhana yang terbuat dari bulu domba. Bulu domba itu bahasa Arabnya Shuf, maka disebutlah kaum Sufi. Sedangkan ajaran tentang bagaimana cara hidup sederhana atau hidup zuhud disebut tasawuf. Jadi Sufi adalah orangnya sedangkan tasawuf adalah ajarannya. (http://forum.dudung.net/index.php?topic=1616.0;wap)

A.        ASAL USUL ISTILAH TASAWUF(http://athos666.multiply.com/journal/item/13/Sejarah_Tasawuf)

1.         Hakekat Tasawuf

terjadi perbedaan pendapat para peneliti mengenai asal-usul istilah tasawuf, termasuk Orang-orang sufi sendiri.

Asy Syibli pernah ditanya, “kenapa orang-orang sufi dinamakan sufi?.” Asy Syibli menjawab”nama yang diberikan kepada mereka diperdebatkan asal-usul dan sumber penghambilannya.” Orang-orang sufi sendiri berbeda pendapat tentang asal-usul kata sufi hingga Sekarang.

At-Thusi Abu Nashr As-Siraj menukil dibukunya yang merupakan referensi sufi terklasik dari seorang sufi yang berkata: “Pada awalnya kata sufi adalah shawafi karena pengucapannya dirasa sulit, maka dikatakan sufi.” Hal yang sama dinukil Ath-Thusi dari Abu Al Hasan Al Kanad yang berkata: “Kata sufi diambil dari kata ash-shafa (kejernihan).”

Al kalabadzi Abu bakar Muhammad, orang sufi terkenal, menukil banyak sekali pendapat dari sejumlah orang-orang sufi tentang asal-usul sufi. Salah satu kelompok berkata: “orang-orang sufi dikatakan sufi, karena kebeningan batin mereka dan kebersihan jejak mereka.” Kelompok lain berkata: “Orang-orang sufi dikatakan sebagai sufi, karena mereka berada di shaf (barisan) pertama di depan Allah SWT. Kelompok lain berkata: “orang-orang sufi dinamakan sufi karena sifat-sifat mereka mirip dengan penghuni shuffah pada zaman Nabi Muhammad. Kelompok lain berkata: “Mereka dinamakan sufi, karena mereka mengenakan ash-shuf(wol).

Orang yang menisbatkan orang-orang sufi kepada shuffah dan ash-shuf menjelaskan tentang kondisi lahiriah orang-orang sufi, karena mereka (orang-orang sufi) meninggalkan dunia. Untuk itu mereka keluar dari tempat tinggal mereka, meninggalkan teman-teman mereka, berkelana ke penjuru dunia, melaparkan perut dan menelanjangi badan. Mereka tidak mengambil dunia kecuali apa yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu menutup aurat dan menghentikan kelaparan. Karena mereka pergi dari tempat tinggal mereka, maka mereka dinamakan orang asing. Karena mereka banyak berjalan di padang-padang pasir dan berlindung di goa goa saat darurat, mereka dinamakan syakfatiyah oleh sebagian penduduk, karena syakfat dalam bahasa mereka berarti goa.

Orang-orang Syam menamakan orang-orang sufi dengan nama Juiyah, karena mereka makan sebatas yang menegakan tulang punggung untuk kondisi darurat. Imam Abu Al faraj Abdurrahman bin Al Jauzi berkata: “Salah satu kelompok yang berpendapat bahwa kata tasawuf diambil dari kata shuffah, Mereka berpendapat seperti itu, karena melihat penghuni shuffah mempunyai sifat shuffah seperti:mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT dan terus menerus dalam keadaan miskin. Mereka datang kepada Rasullullah tanpa mempunyai harta dan keluarga, untuk itu beliau membangun shuffah di masjid beliau dan karena itu mereka dinamakan penghuni shuffah. Mereka menetap di masjid karena terpaksa dan makan dari harta zakat karena darurat, ketika Allah Ta’ala memberi kemenangan-kemenangan kepada kaum muslimin, mereka tidak lagi merasa perlu bertahan pada kondisi tersebut. Untuk itu mereka keluar dari masjid.

Penisbatan sufi kepada shuffah adalah tidak benar, karena jika seperti itu maka dikatakan sebagai shafi. Ada lagi yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shufanah yaitu sayuran andewi. Orang-orang sufi dinisbatkan kepadanya, karena mereka melintasi tanaman-tanaman padang pasir, ini juga tidak benar, karena jika mereka dinisbatkan kepadanya maka dikatakan sebagai shufani.

Masih banyak lagi orang-orang dulu dan belakangan yang mengemukakan pendapatnya tentang masalah ini. Diantara orang dulu ialah Bairuni Abu Ar Raihan yang menyatakan  bahwa tasawuf diambil dari kata sufiyah dalam bahasa Yunani, yang berarti hikmah (kebijaksanaan), perkataan Bairuni diringkas Shadiq Nasy’at dinukil dari buku Dzikru maa lil Hindi min Maqulatin Maqbulah aw Mardzulah, Teksnya adalah sebagai berikut: “Orang-orang yunani tempo dulu, maksudnya orang-orang bijak seperti Solan Al Atheni, meyakini sebelum filsafat diluruskan orang-orang hindu bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah sesuatu yang satu. Mereka berkata bahwa manusia tidak mempunyai keistimewaan atas kedekatan dengan causa prima (penyebab tertinggi) dalam kedudukan. Sebagian dari mereka meyakini bahwa wujud hakiki ialah causa prima tersebut, karena dia tak membutuhkan pihak lain dengan dzatnya, sedang selain dia di alam semesta membutuhkan pihak lain. Jadi eksistensi selain causa prima adalah khayal, sedang yang benar ialah causa prima saja.

Orang-orang Yunani tersebut juga berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada pada hakikatnya adalah satu dan causa prima terlihat didalamnya banyak bentuk dan kekuatannya berada di bagian-bagian segala sesuatu yang ada dengan berbagai kondisi yang menghendaki perubahan bersama penyatuan dzat. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa orang yang pergi secara total kepada causa prima sembari meniru dengannya sebisa mungkin itu bisa menyatu dengannya jika ia meninggalkan semua sarana dan mengosongkan diri dari semua ikatan, ini juga pendapat orang-orang sufi karena topiknya sama. Hal yang sama dikatakan orientalis Jerman Fone Hamer, itu karenanya adanya kemiripan suara kata sufi dengan kata bahasa Yunani shufiya. Begitu juga dengan kemiripan kata tasawuf dengan theosofi. Inilah kontroversi asal-usul yang terjadi pada kata tasawuf, oleh karena itu orang sufi tempo dulu Ali Al-Hajuwiri terpaksa
4

berkata: “sesungguhnya pengambilan asal-usul nama ini (tasawuf) dimaknai apapun tidak benar menurut bahasa, karena nama tersebut lebih agung dari kata tempat ia berasal. Hal yang sama dikatakan Al-Qusyairi di Risalahnya: “Tidak ada qiyas dan asal-usul kata dalam bahasa Arab yang memberikan kesaksian tentang kata tasawuf.”

Banyak sekali pendapat asal usul istilah tasawuf, misalnya Al Qusyairi, bahwa kata tasawuf adalah defectif, yang tidak mempunyai asal-usul, ada yang berpendapat bahwa kata tasawuf diambil dari kata ash-shafa atau ash-shafwu (kejernihan). Ada lagi yang berpendapat kata tasawuf diambil dari kata ash-shuf (wol), karena pemakaian ash-shuf banyak dilakukan orang-orang zuhud. Ada lagi yang mengatakan bahwa sufi diambil dari kata shuffah yang nisbatkan kepada sebagian besar sahabat. Namun, penisbatan kata kepada shuffah itu tidak dalam bentuk kata sufi, namun dalam kata shuffi.
   
Pendapat yang paling kuat dan paling dekat dengan akal ialah pendapat bahwa sufi diambil dari kata ash-shuf (wol) dan mutashawwif (orang tasawuf) juga diambil dari kata tersebut, karena dikatakan tashawwafa, jika orang tersebut mengenakan ash-shuf (wol).

2.         Permulaan Kemunculan Istilah Tasawuf
Para ulama berbeda pendapat tentang awal kemunculan kata tasawuf. Ibnu Taimiyah dan sebelum itu Ibnu Al Jauzi dan Ibu Khaldun menyebutkan bahwa kata sufi tidak dikenal di tiga abad hijriyah, namun pembicaran tentang tasawuf dikenal setelah itu. As Siraj Ath Thusi berkata di bab khusus yang ia buat untuk mengkounter pendapat yang menyatakan: “Kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi pada zaman dulu dan kata tersebut adalah kata baru.” Berkata As Siraj: “Jika penanya bertanya dengan berkata bahwa kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi dikalangan sahabat-sahabat Nabi SAW atau generasi sesudah mereka, kami hanya mengenal istilah orang-orang ahli ibadah, orang-orang zuhud, para pengembara, para orang miskin. Selain itu, tidak pernah dikatakan kepada seorang sahabat bahwa ia orang sufi.” Hal yang sama dikatakan As-Sahruradi: “kata tasawuf tidak dikenal pada zaman Rasullullah.” ada yang mengatakan bahwa kata tasawuf (sufi) tidak dikenal hingga tahun 200 Hijriyah. Abdurrahman Al Jami menegaskan: “Abu Hasyim Al Kufi adalah orang yang pertama kali dipanggil dengan sebutan sufi dan sebelumnya tidak ada seorang pun yang diberi nama dengan nama tersebut. Khaniqah yang pertama kali ialah khaniqah di Ramlah, Syam.”

Adapun Al Hajuwiri, ia menyebutkan kata tasawuf sudah ada pada zaman Rasullullah dan dengan kata yang sama, Al Hajuwiri berhujjah dengan hadits palsu yang mengatasnamakan Rasullullah, katanya Beliau bersabda: “Barangsiapa mendengar suara orang-orang sufi, namun tidak mengamankan doa mereka, ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang lalai.” Padahal Al Hajuwiri sendiri menulis di akhir bab yang sama ketika menjelaskan perkataan Abu Al Hasan Al Busynaji: “Tasawuf pada hari ini adalah nama tanpa hakekat dan sebelum itu adalah hakekat tanpa nama.” Maksudnya, nama tasawuf tidak ada pada zaman sahabat dan generasi salaf sedang maknanya ada pada setiap orang dari mereka, sedang sekarang namanya ada, namun maknanya tidak ada.  Adapun   para

orientalis yang menulis tasawuf seperti Nichelson, ia berpendapat bahwa kata tasawuf pertama kali diberikan kepada Abu Hasyim Al Kufi (meninggal pada tahun 150 H).

Adapun bentuk jamak kata sufi, yaitu shufiyah (orang-orang sufi) yang muncul pada tahun 189 H (814M) di Iskandariyah, maka itu menunjukkan dekatnya periode ketika itu dengan salah satu aliran tasawuf islam, yang nyaris merupakan aliran Syiah dan muncul di Kufah. Abdak adalah imam terakhir tasawuf dan termasuk orang yang berpendapat imamah (kepemimpinan) itu bisa dimiliki dengan pewarisan dan penunjukan. Abdak tidak makan daging dan meninggal dunia di Baghdad kira-kira pada tahun 210 H. Jadi penggunaan kata sufi terbatas di Kufah.

Adapun Abu Nu’Aim Al Ashbahani yang kemudian menyusun bukunya Al-Hilyah untuk orang-orang sufi. Dalam batasan-batasan tasawuf ia menyebutkan banyak hal mungkar dan buruk, Ia tidak malu untuk mengatakan bahwa Nabi Muhammad, abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat-sahabat terkemuka, adalah orang-orang sufi, karena berargumen mereka orang-orang yang zuhud.  (http://athos666.multiply.com/journal/item/13/Sejarah_Tasawuf)

B         DASAR-DASAR TASAWUF DALAM AL-QURAN DAN HADITS(Drs. Rosihon Anwar, M. Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M. Ag. Drs. Maman  Abd. Djalil, 2000: 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22 s/d 26)
            1.         Landasan Al-quran
Secara umum, ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya nanti melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf  ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-quran dan As-sunnah. Al-quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dapat saling mencintai (mahabbah) dengan Tuhan. Hal itu difirmankan Allah dalam Al-quran surat Al-Maidah ayat 54 yang artinya.
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Dalam Al-quran, Allah pun memerintahkan manusia agar senantiasa bertaubat, membersihkan diri, dan memohon ampunan kepada-Nya sehingga memperoleh cahaya dari-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman bersama dengan Dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Allah kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segela sesuatu.” (Q.S. Al-Tahrim ayat 8) 
             
Al-quran pun menegaskan tentang pertemuan dengan Allah di mana pun hamba-hamba-Nya berada. Hal ini sebagaiman di tegaskan-Nya:
“Dan kepunyaannya Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesunguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya lagi Maha Mengetahui).” (Q.S. Al-Baqarah ayat 115)

Bagi kaum sufi, ayat di atas mengandung arti bahwa di mana Tuhan ada, di situ pula Tuhan dapat dijumpai. (Harun Nasution, 1986:72)
           
 Allah pun akan memberikan cahaya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman-Nya:
            “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu (pohon) zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah mebuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Nur ayat 35)
           
 Allah pun menjelaskan  kedekatan manusia dengan-Nya, seperti disebutkan dalam firman-Nya:
“Jika hamba-hamba-Ku bertanya padamu (Muhammad) tentang diri-Ku, Aku adalah dekat, Aku mengabulkan seruan orang yang memanggil jika ia panggil Aku.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 186)
           
Kalangan sufi mengartikan kata “da’a” dalam ayat itu bukan dalam arti berdoa yang lazim dipakai, tetapi berseru dan memanggil. Dasar-dasar tasawuf ini ternyata banyak ditemukan dalam Al-quran. (Nasution, op. cit. hlm. 73)

Lebih dari itu, pada ayat 16 dari Surat Qaf, Allah menjelaskan:
“Sebenarnya Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Kami lebih dekat kepadanya daripada pembuluh darahnya sendiri.”

Berdasarkan ayat di atas, kebanyakan kalangan sufi berpendapat bahwa untuk mencari Tuhan, orang tak perlu pergi jauh-jauh. Ia cukup kembali ke dalam dirinya sendiri. (Ibid). Lebih jauh lagi, Harun Nasution menegaskan bahwa Tuhan ada di dalam, bukan di luar diri manusia. (Harun Nasution, 1992:60)

 Al-quran pun mengingatkan manusia agar tidak diperbudak kehidupan duniawi dan kemewahan harta benda yang menggiurkan. Sebagaimana difirmankan Allah:
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdaya kamu.” (Q.S. Fathir ayat 5)

Dalam pemahaman sufi, ayat di atas menjadi salah satu dasar untuk menjahui kehidupan dunia yang penuh tipuan.

Tingkat Zuhud yang banyak diklaim sebagai awal beranjaknya Tasawuf, telah dijelaskan dalam Al-quran
“Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sementara, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang bertaqwa.” (Q.S. An-Nisa’ ayat 77)

 Sementara tingkatan Taqwa berlandaskan pada firman Allah
Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sis Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” ( Q.S. Al-Hujarat ayat 13)

Tingkatan Tawakal
           
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath-Thalaq ayat 3)

Tingkatan syukur

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu.” (Q.S. Ibrahim ayat 7)

Tingkatan sabar

Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (Q.S. Al-Mu’minun ayat 55)

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 155)

Tingkatan Ridha

“Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha terhadapnya.” (Q.S. Al-Ma’idah ayat 199)

 2.         Landasan Hadits
Sejalan dengan apa yang sisebutkan dalam Al-qur’an, sebagaimana dijelaskan tadi, tasawuf juga dapat dilihat dalam Hadits. Dijumpai di dalam hadits tentang kehidupan rohaniah manusia, salah satu Hadits tersebut:
 “Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri berati ia mengenal Tuhannya.”

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”

“Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Maka tatkala mencintainya, jadilah Aku pendengarnya yang dia pakai untuk melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan-Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berpikir, meninjau, dan berjalan.”

Hadits di atas memberi petunjuk bahwa manusia dan Tuhan dapat bersatu. Diri manusia dapat lebur dalam diri Tuhan, yang selanjutnya dikenal dengan istilah fana’, yaitu fana’-nya makhluk sebagai yang mencintai kepada Tuhan seperti yang dicintainya. Namun, istilah “lebur” atau fana’ ini, menurut kami harus dipertegas bahwa antara Tuhan dan manusia tetaplah ada jarak atau pemisah, sehingga tetap ada perbedaannya antara Tuhan dengan hamba-Nya. Disini hanya ditunjukkan keakraban antara makhluk dan Khaliknya. (Drs. Rosihon Anwar, M. Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M. Ag. Drs. Maman  Abd. Djalil, 2000: 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22 s/d 26)



KESIMPULAN

                                                                                                                                   

Sebagian orang mengatakan ajaran tasawuf dan ajaran tarekat adalah ajaran yang tidak memiliki landasan dalil yang sahih, baik dalil implisit maupun eksplisit, bisa mengarah kepada perbuatan syiirik. Mereka beralasan, dikarenakan ajaran sufi adalah pengalaman batin seseorang kepada Tuhannya, yang berbicara mengenai rasa.

Oleh karena itu, sikap seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, apabila mempelajari sesuatu termasuk ajaran tasawuf dan tarekat harus benar-benar kritis. Tidak boleh sungkan mengambil yang baik walaupun kata orang lain salah. Dan juga jangan ragu membuangnya walaupun telah menjadi keyakinan dan amalan banyak orang.

Mistisme dalam Islam disebut tasawuf dan kaum Orientalis Barat menyebutnya sufisme, kata ini dalam istilah Orientalis Barat dipakai untuk penyebutan mistisme Islam. Sufisme tidak dipakai untuk mistisme yang terdapat dalam agama-agama lain. (Harun Nasution, 1992:56)

Tasawuf atau sufisme sebagaimana halnya dengan mistisme di luar islam, mempunyai tujuan yaitu memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Intisari dari mistisme, termasuk dalamnya sufisme, ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkotemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad, beratu dengan Tuhan. (Harun Nasution, 1992:56)

Tasawuf merupakan suatu ilmu pengetahuan dan sebagai ilmu pengetahuan, tasawuf atau sufisme mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat mungkin dengan Allah swt. (Harun Nasution, 1992:56)

Asal kata Tasawuf berasal dari kata sufi. Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata sufi adalah seorang zahid atau ascetic bernama Abu Hasyim Al-Kufi Iraq (w. 150 H). (Harun Nasution, 1992:56)


Tasawuf, pada awalnya pembentukannya, adalah akhlak atau keagamaan, sedangkan moral keagamaan ini banyak diatur dalam Al-quran dan As-sunnah. Sumber pertama ajaran Tasawuf  adalah Islam sebab Tasawuf ditimba dari Al-quran, As-sunnah dan amalan serta ucapan para Sahabat. Amalan serta ucapan para Sahabat itu tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-quran dan As-sunnah. Karena itu, dua sumber utama tasawuf  adalah Al-quran dan As-sunnah. (Drs. Rosihon Anwar, M. Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M. Ag. Drs. Maman Abd. Djalil, Ilmu Tasawuf, (Bandung: CV.PUSTAKA SETIA, 2000), h. 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22 s/d 26.)


PENUTUP
                                                                                                                                   
Demikianlah Makalah yang kami kumpulkan dari berbagai sumber ini mengenai Asal usul ilmu tasawuf dan dalil-dalil Al-qurannya. Mudah-mudahan apa yang kami buat ini semakin bertambah ilmu teman-teman tentang islam secara kaffah terutama mengenai Ilmu Tasawuf. Sebagai buku panduan atau buku pengambilan kutipan-kutipan yang kami pakai adalah Prof. Dr Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, Dan Drs. Rosihon Anwar, M. Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M. Ag. Drs. Maman Abd. Djalil, Ilmu Tasawuf. Segala kekurangan dalam penyusunan Makalah ini sangat kami rasakan, kesempurnaan yang seutuh-utuhnya hanya milik Allah Swt, yang tak pernah salah dan khilaf, dan Dialah yang Maha Luas Ilmu-Nya. Wa akhiru da’wana wal hamdulillahirobbil‘alamin.


PENYUSUN MAKALAH

DAFTAR KEPUSTAKAAN
                                                                                                                                   


Drs. Rosihon Anwar, M. Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M. Ag. Drs. Maman Abd. Djalil, Ilmu Tasawuf, (Bandung: CV.PUSTAKA SETIA, 2000), h. 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22 s/d 26.

Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 56

http://athos666.multiply.com/journal/item/13/Sejarah_Tasawuf

http://forum.dudung.net/index.php?topic=1616.0;wap


www.tasawufislam.blogspot.com

No comments: